Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika bagian mata yang berfungsi menangkap cahaya tiba-tiba terlepas dari posisi normalnya? Kondisi ini dikenal sebagai ablasi retina atau retinal detachment. Masalah mata ini tergolong serius karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen apabila tidak segera ditangani.
Retina merupakan lapisan tipis yang berada di bagian belakang bola mata. Jaringan ini berfungsi menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal yang dikirimkan ke otak melalui saraf optik sehingga kita dapat melihat objek dengan jelas.
Lantas, kenapa retina mata bisa lepas? Apakah kondisi ini hanya terjadi pada orang lanjut usia, atau bisa juga dialami oleh orang yang masih muda? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Retina Mata Lepas?
Retina mata lepas adalah kondisi ketika lapisan retina terpisah dari jaringan di bawahnya yang mendukung fungsi retina. Ketika hal ini terjadi, retina tidak dapat bekerja secara normal sehingga penglihatan bisa menjadi kabur, muncul bayangan gelap, bahkan kehilangan penglihatan.
Dalam dunia medis, kondisi ini disebut retinal detachment atau ablasi retina. Penyebabnya bisa berbeda-beda, mulai dari robekan pada retina, tarikan jaringan parut, hingga penumpukan cairan di belakang retina.
Ablasi retina termasuk kondisi darurat medis. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah kerusakan penglihatan yang bersifat permanen.
Kenapa Retina Mata Bisa Lepas?
Ada beberapa penyebab retina mata terlepas dari posisi normalnya. Sebagian berkaitan dengan perubahan alami di dalam mata, sedangkan penyebab lainnya berhubungan dengan cedera atau penyakit tertentu.
1. Perubahan Gel Mata Akibat Penuaan
Salah satu penyebab paling umum adalah perubahan pada vitreus, yaitu zat menyerupai gel yang mengisi bagian tengah bola mata.
Seiring bertambahnya usia, vitreus dapat berubah tekstur, mencair, dan menyusut. Dalam kondisi tertentu, perubahan ini membuat vitreus menarik retina hingga menimbulkan robekan. Jika cairan masuk melalui robekan tersebut dan terkumpul di belakang retina, lapisan retina dapat terlepas.
Proses ini lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia, tetapi bukan berarti setiap orang yang mengalami perubahan vitreus pasti mengalami ablasi retina.
2. Rabun Jauh dengan Minus Tinggi
Orang yang memiliki rabun jauh atau miopia tinggi berisiko lebih besar mengalami ablasi retina. Hal ini karena pada sebagian penderita, bentuk bola mata yang lebih panjang dapat membuat retina menjadi lebih tipis atau memiliki area yang rentan mengalami robekan.
Jika retina mengalami robekan, cairan dari dalam mata dapat masuk ke belakang lapisan retina dan membuatnya terangkat dari jaringan pendukungnya.
Karena itu, orang dengan minus tinggi sebaiknya menjalani pemeriksaan mata secara berkala, terutama jika mengalami perubahan penglihatan yang mendadak.
3. Cedera atau Benturan pada Mata
Benturan keras pada mata atau kepala dapat merusak jaringan di dalam mata, termasuk retina. Cedera akibat kecelakaan, aktivitas olahraga, atau benda yang mengenai mata dapat memicu robekan retina dan meningkatkan risiko ablasi retina.
Gejala tidak selalu muncul tepat setelah cedera. Oleh karena itu, benturan mata yang cukup keras sebaiknya diperiksakan ke dokter mata, terlebih jika setelahnya muncul kilatan cahaya, bintik-bintik melayang, atau penglihatan yang berubah.
4. Komplikasi Diabetes
Diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah retina dan menyebabkan retinopati diabetik. Pada kondisi tertentu, kerusakan tersebut memicu pertumbuhan jaringan parut yang dapat menarik retina hingga terlepas.
Jenis ablasi retina ini disebut ablasi retina traksional. Berbeda dari ablasi akibat robekan, kondisi ini terjadi karena retina tertarik oleh jaringan parut yang terbentuk di permukaannya.
Itulah sebabnya penderita diabetes perlu mengontrol kadar gula darah dan menjalani pemeriksaan retina secara berkala sesuai anjuran dokter, meskipun penglihatannya masih terasa normal.
5. Riwayat Operasi Mata
Orang yang pernah menjalani operasi mata, termasuk operasi katarak, memiliki risiko ablasi retina yang lebih tinggi dibandingkan sebagian orang yang belum pernah menjalani operasi tersebut.
Namun, bukan berarti operasi katarak pasti menyebabkan retina lepas. Risiko dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi retina sebelum operasi, tingkat rabun jauh, dan riwayat penyakit mata.
Jika pernah menjalani operasi mata, segera periksakan diri apabila muncul gejala penglihatan yang tidak biasa, terutama kilatan cahaya atau bayangan seperti tirai.
6. Riwayat Keluarga dan Kelainan Retina
Risiko ablasi retina juga dapat meningkat apabila seseorang pernah mengalami kondisi serupa pada mata lainnya atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat ablasi retina.
Selain itu, terdapat kelainan tertentu yang membuat bagian retina menjadi lebih tipis dan rentan mengalami robekan. Kelainan tersebut terkadang tidak menimbulkan gejala sehingga baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan mata.
7. Peradangan atau Penumpukan Cairan di Belakang Retina
Tidak semua ablasi retina disebabkan oleh robekan. Pada jenis tertentu, cairan dapat menumpuk di belakang retina akibat peradangan, kebocoran pembuluh darah, atau kondisi lain yang memengaruhi bagian belakang mata.
Jenis ini disebut ablasi retina eksudatif. Dalam kasus tertentu, penyebabnya dapat berkaitan dengan penyakit peradangan atau tumor di dalam mata.
Penanganan kondisi ini bergantung pada penyebab yang mendasarinya, sehingga pemeriksaan dokter mata sangat diperlukan.
Apa Saja Gejala Retina Mata Lepas?
Gejala ablasi retina dapat muncul secara tiba-tiba dan terkadang tidak disertai rasa sakit. Karena itu, sebagian orang mungkin tidak menyadari bahwa kondisi yang dialaminya memerlukan penanganan segera.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Muncul banyak bintik hitam atau garis melayang (floaters) secara mendadak. Bintik tersebut dapat terlihat seperti titik, benang, atau jaring laba-laba yang bergerak mengikuti arah pandangan.
- Melihat kilatan cahaya. Kilatan dapat terlihat di sisi penglihatan, terutama ketika berada di tempat yang redup.
- Muncul bayangan gelap seperti tirai. Bayangan dapat menutupi sebagian penglihatan dari sisi tertentu dan semakin meluas.
- Penglihatan mendadak kabur atau berkurang. Sebagian orang juga mengalami gangguan saat melihat bagian tengah atau samping bidang penglihatan.
Bintik melayang sesekali memang dapat terjadi tanpa masalah serius. Namun, jika jumlahnya bertambah secara tiba-tiba, disertai kilatan cahaya, atau muncul bayangan gelap, jangan menganggapnya sebagai gangguan biasa.
Segera pergi ke dokter mata atau instalasi gawat darurat jika mengalami gejala tersebut. Jangan menunggu sampai penglihatan semakin menurun.
Apakah Retina Mata Lepas Bisa Sembuh?
Ablasi retina dapat ditangani, tetapi keberhasilan pemulihan penglihatan bergantung pada luas dan lokasi retina yang terlepas, berapa lama kondisi berlangsung, serta apakah bagian pusat penglihatan yang disebut makula ikut terdampak.
Dokter mata akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi retina dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jika ditemukan robekan retina sebelum terjadi pelepasan yang luas, dokter mungkin dapat menanganinya dengan laser atau prosedur pembekuan untuk menutup robekan. Jika retina sudah terlepas, tindakan operasi sering kali diperlukan.
Beberapa pilihan penanganan meliputi:
Laser atau krioterapi. Prosedur ini digunakan untuk menutup robekan retina pada kondisi tertentu agar cairan tidak terus masuk ke belakang retina.
Vitrektomi. Dokter mengangkat gel vitreus yang bermasalah, kemudian menggunakan gas atau minyak silikon dalam kondisi tertentu untuk membantu retina kembali menempel.
Scleral buckle. Dokter memasang pita khusus pada bagian luar bola mata untuk membantu mendekatkan dinding mata ke retina.
Retinopeksi pneumatik. Pada kasus tertentu, dokter menyuntikkan gelembung gas ke dalam mata untuk membantu menempatkan retina kembali, biasanya disertai tindakan untuk menutup robekan.
Tidak semua pasien memerlukan prosedur yang sama. Jenis tindakan ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan tingkat keparahan ablasi retina.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Retina Lepas?
Tidak semua kasus ablasi retina dapat dicegah, terutama yang berkaitan dengan penuaan atau kelainan bawaan. Meski demikian, ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan retina.
Pertama, lakukan pemeriksaan mata secara berkala, terutama jika memiliki minus tinggi, diabetes, riwayat operasi mata, atau keluarga dengan riwayat ablasi retina.
Kedua, gunakan pelindung mata saat melakukan pekerjaan atau olahraga yang berisiko menimbulkan cedera. Jika mata mengalami benturan keras, segera cari pertolongan medis apabila terdapat keluhan atau perubahan penglihatan.
Ketiga, bagi penderita diabetes, kendalikan kadar gula darah dan ikuti jadwal pemeriksaan retina yang dianjurkan dokter. Langkah ini penting untuk mendeteksi retinopati diabetik sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.
Terakhir, jangan mengabaikan gejala baru seperti kilatan cahaya, peningkatan jumlah floaters, atau bayangan gelap pada penglihatan. Pemeriksaan dini dapat membantu menemukan robekan retina sebelum berkembang menjadi pelepasan yang lebih luas.
Kesimpulan
Retina mata bisa lepas akibat perubahan gel di dalam mata karena penuaan, rabun jauh dengan minus tinggi, cedera mata, komplikasi diabetes, riwayat operasi mata, kelainan retina, maupun penumpukan cairan akibat penyakit tertentu.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen jika terlambat ditangani. Gejala seperti bintik melayang yang muncul mendadak, kilatan cahaya, dan bayangan gelap seperti tirai harus segera diperiksakan ke dokter mata.
Menjaga kesehatan mata bukan hanya tentang menggunakan kacamata yang tepat, tetapi juga mengenali perubahan penglihatan dan mendapatkan pemeriksaan medis pada waktu yang tepat.